Pameran POSTERAKSI

Jakarta Globe March 1-2, 2014

JakartaGlobe-March-1-2-2014

Speaking Truth to Power With Evocative Posters

By Putri Fitria on 12:35 pm Mar 02, 2014

In 1945, a legendary poster saying “Boeng, Ajo Boeng!” (“Come on, Lads!”) had invaded the streets of numerous cities in the island of Java. The picture was by the famous painter Affandi, displaying a young man holding a red-and-white flag in his right hand, while his left hand is curled into a fist, tugging against a chain until it breaks. The layout was designed by the painter Sudjojono, while the words came from the poet Chairil Anwar. Reportedly made through the orders of Sukarno, one of the main architects of Indonesia’s independence and the country’s first president, it was an effective means to set the spirit of Indonesian youth struggle on fire.Looking back, this medium has always been more than mere room decoration for teenagers in the throes of fandom. It is not just an advertising tool promoting a discount and the nearby shopping center. A poster can serve as a method for political expression.Political-themed posters are still being developed in Indonesia today. Setting a very interesting example are the works of Nobodycorp Internationale Unlimited, an initiative that aims to encourage serious discourse about social or sociopolitical issues through its posters.What makes it more appealing is the fact that Nobodycorp has managed to embrace the spirit of the contemporary era by using the Internet in dispersing its work, which can be viewed at their website, Nobodycorp.org. The group has also made its presence known through Twitter (@Nobodycorp) and Facebook (Nobodycorp Internationale Unlimited).Nobodycorp has circulated more than 1,000 posters through cyberspace. Some come across as typical movement artwork, employing a propagandistic style of language, while others use powerful visuals in challenging viewers to reflect on injustice. One can’t help but be overwhelmed by a sense of silence and darkness when observing the group’s solidarity posters for the families of missing people, the Sampang Shiite case, the victims of 1965 victims, and so on.Nobodycorp can also be a little playful at times, which shines through their work “Istanageram” (“Angry Palace”), in response to the first lady Ani Yudhoyno’s penchant for lashing out at commenters on her Instagram page.The driving, creative force behind Nobodycorp, Alit Ambara, is a poster artist from Singaraja, Bali. He established Nobodycorp as a graphic design studio in 1993, not long after he finished his studies in the sculpture department of the Jakarta Art Institute. In 1995, he took the opportunity to study art history at Savannah College of Art and Design in the United States.Upon his return to Indonesia in 1998, he became a human rights activist, participating in various social organizations such as Jurnal Media Kerja Budaya, Fortilos (a solidarity group for East Timor), and the Institute for Indonesian Social History (ISSI).He currently holds the position of creative director for IndoProgress, an alternative media focusing on sociopolitical issues and people’s movements in Indonesia. Nobodycorp can be viewed as a combination of Alit’s experience as a human rights activist, his proficiency as an artist, and his sharpness in incorporating the spirit of social media, which he first began using to further his efforts with Nobodycorp in 2009.

“It started by archiving my old poster files into the blog. Then I just entered new files, responding to various socio-political cases. I then made use of the many social media channels available on the Internet,” he said.The bespectacled artist also explained why Nobodycorp was a simple effort to push for social change in Indonesia. He said he was aware that such a transformation relied more on physical struggles. For this reason, he designed his work in such a way that they could be used by the people. All of his posters fall under the Creative Commons license, making them free to use and spread for non-commercial purposes, with no need to ask for permission as long as the user provides clear attribution and is not in conflict with the purpose of the creation.“During a visit to Bali, I found a Nobodycorp poster being used by the ForBali activists in protest of recent land reclamation activities. They printed one of my designs on T-shirts, which were sold to raise money to support the campaign against the reclamation of Benoa Bay,” Alit said.He has also set up a project called PSTRKS! (Posteraksi.Org) to see how far he can take Nobodycorp’s works in physical spaces. As part of the project, about 160 of Nobodycorp’s works were displayed at Bentara Budaya in Yogyakarta and Balai Soedjatmoko in Solo in October and November last year.“I have also been preparing a downloadable mini booklet, containing a technical guide for exhibition. When ready it can be used by anyone interested in organizing a Nobodycorp exhibition,” Alit said. He has a number of plans for Nobodycorp through the PSTRKS! Project, from a gallery exhibition to involving the public in poster distribution.By making use of social media — which are flexible and open to the public — the artistic possibilities are endless, especially with the countless issues and injustices that society faces today.“I myself just realized that Nobodycorp’s designs have been downloaded from the Internet to be used in rallies, for publication covers, printed on T-shirts, pasted on public walls, and so on. That is exactly the reason for Nobodycorp’s existence,” Alit said.

http://www.thejakartaglobe.com/features/speaking-truth-to-power-with-evocative-posters/

 

Pameran Posteraksi di Balai Soedjatmoko Surakarta, 23-28 November 2013.

Poster-Posteraksi-BSS-Nov2013


Penutupan Pameran 24/10/2013


Foto-foto Malam Pembukaan Pameran: Rabu, 16 Okt. 2014

(Foto-foto dari berbagai sumber)


 

POSTERAKSI 16-24 Okt. 2013 di Bentara Budaya Yogyakarta

Nobodycorp. Internationale Unlimited mengadakan pameran Posteraksi pada 16-24 Oktober 2013 di Bentara Budaya Yogyakarta. Pameran ini menampilkan 180 buah poster pilihan koleksi Nobodycorp. dari kurun waktu 2010-2013. Dibawah ini disajikan dua tulisan pengantar untuk pameran ini, yang pertama oleh Ade Tanesia Pandjaitan seorang pelaku media dan sekaligus penggagas pameran ini di Yogyakarta. Tulisan kedua oleh Arief Adityawan S. dari Grafisosial.

***

Poster-Posteraksi-BBY-Okt2013-alt01

Poster, Sosial Media, dan Gerakan Masyarakat Sipil

Ade Tanesia Pandjaitan

“This is visual culture. It is not just a part of your everyday life, it is your everyday life,” Nicholas Mirzoeff

Hari ini, dengan segala kecanggihan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), kehidupan kita semakin ditimbuni oleh visual. Cara pandang masyarakat terhadap suatu hal pun dibentuk oleh visual-visual yang dihantar oleh medium televisi, internet, telepon selular, dan lain-lain. Hal yang menjadi persoalan adalah konten apa yang diserap oleh masyarakat, yang nantinya kelak membentuk perspektif dan sikap terhadap “dunia”nya. Pertanyaan lebih lanjut adalah siapa yang mendominasi konten tersebut?  Jika kita menengok pada media televisi, maka hanya ada 12 grup stasiun televisi yang merajai Indonesia dan memberikan asupan informasi kepada sekitar 240 juta penduduk Indonesia.

Media internet merupakan pilihan medium yang memungkinkan perspektif personal dikomunikasikan. Di Indonesia sendiri, perkembangan jumlah pengguna internet cukup pesat.  APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) mengungkapkan bahwa selama 1998-2002 jumlah pengguna meningkat lebih dari 770%. Kemudian nyaris berlipat ganda dari 4,5 juta pada 2002 menjadi 16 juta pada tahun 2005, dan 31 juta orang pada 2010 (APJII, 2010). Menurut hasil penelitian Saling Silang pada 2011, Indonesia memproduksi sekitar 15% dari seluruh tweet sedunia, sehingga menempatkannya di urutan ketiga pengguna Twitter setelah Brazil dan Amerika. Pengguna Facebook indonesia juga menempati urutan kedua sedunia dengan jumlah lebih dari 34 juta pengguna. Sementara untuk blog, sampai pada Januari 2011 terdapat 4,131,861 akun blog di Indonesia.[1] Dengan segala kemudahan akses yang disediakan oleh TIK, maka konten lokal memperoleh ajang pertarungannya dengan konten arus utama.

Poster-poster Nobodycorp. Internationale Unlimited karya seniman Alit Ambara  berada pada ranah medium sosial media. Seluruh posternya terdistribusi melalui seluruh jaringan sosial media yang tersedia. Pesan-pesan yang disampaikan dalam poster Nobodycorp. hampir seluruhnya berkisar pada tema sosial, politik, konflik agraria, pelanggaran HAM, yang terjadi di Indonesia. Hal yang menarik adalah, bisa jadi “penonton” dari poster ini sudah mengetahui isu-isu yang diangkat oleh Nobodycorp., tetapi poster mampu mengkonstruksi realitas dan makna baru yang dengan cepat menggugah kesadaran seseorang, dibanding tulisan misalnya. Mungkin kita sudah membaca atau menonton peristiwa korupsi ribuan kali melalui surat kabar dan televisi, tetapi sebuah poster yang kuat mampu menggerakkan kita untuk menyatakan sikap terhadap suatu soal tertentu. Hal ini juga terjadi pada poster-poster Nobodycorp. yang menjadi pendukung bagi aksi-aksi tertentu, seperti aksi Kamisan di depan Istana Negara yang juga menggunakan poster Nobodycorp. untuk menggugat segala bentuk pelanggaran HAM seperti orang hilang. Aksi penggugatan terhadap kasus Munir yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat juga memakai poster-poster Nobodycorp. Terakhir seorang teman dari KONTRAS Papua, juga menggunakan poster Nobodycorp. untuk mendukung perjuangan menggugat pelanggaran HAM yang terjadi di tanah papua.

Kini merebak wacana bahwa media sosial juga mendorong gerakan perubahan sehingga muncul istilah Click-Activism. Benarkah ada perubahan dari aktivitas di ranah sosial media? Belajar dari dari poster Nobodycorp. yang tersirkulasi melalui media internet, maka tanpa ada aksi offline, maka rantai yang mendukung terjadinya “public engagement” tidak akan terjadi. Poster-poster Nobodycorp. memperoleh fungsi nyatanya ketika dicetak dan menjadi penguat untuk aksi-aksi tertentu. Pun jika poster Nobodycorp. masih berada pada tataran online, maka poster ini bisa dimaknai untuk mengembalikan akal sehat masyarakat dalam memahami suatu persoalan. Sebagai contoh, kini semakin banyak kampanye di jalan-jalan yang mengingatkan bahwa jaman Suharto lebih enak daripada zaman ini. Nobodycorp. merespon gejala ini dengan poster bergambar “Suharto yang sedang mencekik seseorang sambil  berkata… zamanku dulu segala sesuatunya murah, semurah nyawamu..” Tentunya ini hanya satu contoh dari sekian banyak poster menarik yang bisa diinterpretasi dari berbagai perspektif. Poster Nobodycorp. memasuki ruang pertarungan dengan wacana yang digulirkan demi kepentingan kekuasaan. Dalam konteks inilah, Pameran Poster Nobodycorp. menghadirkan ruang jeda untuk mengingat kembali narasi harian yang terjadi pada bangsa ini. ()


[1] “Indonesia Social Media Landscape: A Snapshot of Indonesian User Behaviour” prepared by SalingSilang.com, Februari 2011

***


Poster2-Posteraksi-BBY-Okt2013

Daur Posteraksi Alit Ambara

Arief Adityawan S. (Grafisosial)

Walau ulasan sejarah poster yang secara sekilas ini sangat tak sempurna, namun tetap perlu diajukan untuk meletakkan konteks poster-poster Alit Ambara secara baik dalam perkembangan rancangan poster di Indonesia. Sumber datanya berserakan, namun seringkali sumber data itu hanya berkisar seputar riwayat para seniman poster, tanpa menampilkan rancangan posternya. Beberapa sumber lain menampilkan rancangan posternya, namun tanpa nama perancang. Perlu kerja penelusuran lebih telaten untuk susun sejarah poster negeri kita.

Sejarah Poster Sekilas di Negeri Sana dan Sini

Buku-buku sejarah desain grafis barat selalu meletakkan salah-satu tonggak penting kelahiran poster pada bertumbuhpesatnya produksi massal sebagai buah Revolusi Industri. Untuk melancarkan hukum supply-demand maka muncullah Poster sebagai sarana promosi yang praktis ekonomis, menjangkau orang seluas mungkin di ruang publik. Ketika teknik cetak litografi berwarna makin berkembang, maka selepas pertengahan hingga akhir abad 19 tumbuh kegairahan para seniman seperti Edouard Manet, Jules Cheret, Pierre Bonnard, Alphonse Mucha, Eugene Grasset, Henri de Toulouse-Lautrec, dan lainnya, untuk berposter-ria.

Pada perang dunia pertama poster-poster propaganda Inggris mampu membangkitkan semangat tempur warga maupun tentara mereka. Bahkan pada saat itu, Hitler, yang masih sebagai aktivis politik, mengagumi kedigdayaan propaganda perang Inggris melalui poster dan berbagai jenis media cetak lainnya. Pada 1914 muncul nama desainer Inggris Alfred Leete, yang menggunakan wajah Lord Kitchener untuk poster pendaftaran tentara. Suksesnya poster ini membuat desainer Montgommery Watt meniru gambar orang menunjuk untuk poster pendaftaran tentara di Amerika Serikat pada 1917.

Di Indonesia sejarah poster tentu tak bisa lepas dari peran penjajah bangsa Belanda. Hermawan Tanzil, seorang desainer grafis, memiliki satu poster pendaftaran Indische Leger atau Tentara Hindia dari 1912. Tujuannya sama seperti poster pendaftaran tentara Alfred Leete, namun yang dijanjikan selain rasa hormat (takut?) dari penduduk pribumi, adalah kehidupan yang lebih baik karena imbalan penghasilan yang cukup (Adityawan, 2008), Sejarah poster di Indonesia juga berkembang bersama sejarah film. Sebuah buku berjudul Poster Film Indonesia, Masa Sebelum Kemerdekaan (Pranajaya, Haryanti, Isyanti [ed.], 2009), mendokumentasi poster-poster film. Di dalamnya tampak beberapa rancangan untuk promosi film-film seperti Lari Ka Mekah (1930), Pembakaran Bio Hong Lian Sie (1936), Tjiandjoer (1938), Dasima (1940), dan sebagainya.

Beberapa nama seniman asing yang pernah merancang poster di Hindia-Belanda, didokumentasikan secara relatif rinci dalam buku Lexicon of Foreign Artist who Visualized Indonesia (1600 – 1950), (Leo Haks dan Guus Maris, 1995). Sekedar untuk menyebut beberapa nama seperti, JJ Van Der Heijden datang ke Indonesia pada 1897, tinggal dan bekerja dalam dunia desain di Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Frits Adolf Oscar Van Bemmel pernah bekerja di biro iklan Aneta seputaran tahun 1918-an hingga sebelum 1932. Nama-nama lainnya adalah, A. Heijl Van Reabu, Willem Steven Bitter, dan AE Herrmann. Selain nama-nama di atas, Hindia Belanda memiliki perancang poster otodidak seperti Lo Lion Hien yang banyak merancang iklan, kemasan, poster untuk berbagai jenis produk di Jawa-Tengah (Majalah Sin Po  6 April 1940, hal.17). Juga Lie Giok Sien, perancang yang sempat mengenyam kursus Federal School of Art, di Amerika Serikat, dan kembali bekerja di Malang dan Surabaya (Majalah Sin Po 13 April 1940, hal.11).

Jaman kemerdekaan ditandai dengan sebuah Poster yang cukup terkenal, “Boeng,  Ayo Boeng!” Poster berukuran 80 X 100 cm ini merupakan hasil kolaborasi beberapa seniman, yaitu Affandi (artis) dan Sudjojono (konsep), teks oleh Chairil Anwar. Modelnya pun seniman Dullah. Poster ini kemudian diperbanyak secara manual dan disebarluaskan ke berbagai daerah. Sesudah kemerdekaan banyak poster dibuat untuk kepentingan sosial-politik, termasuk poster-poster saat agresi militer pertama (1947) dan kedua (1949), dimana karena keterbatasan sarana, waktu, dan dana, dilakukan secara manual bergotong-royong dengan teknik semprot/stensil. Masa pemilu 1955, salah-satu Pemilu yang paling demokratis dalam sejarah negeri ini juga terlihat menggunakan banyak poster-poster kampanye.

Pemerintahan Orde Baru Soeharto sesungguhnya adalah pemerintahan yang sangat sadar akan kekuatan propaganda melalui berbagai jenis media komunikasi, baik audio maupun visual. Bahkan sejak awal berkuasa pun Soeharto berpropaganda mengkambinghitamkan Partai Komunis Indonesia, dan membesarkan jasa dirinya dan Angkatan Darat, dalam persitiwa G30S. Pada masa Orde Baru poster, bersama baliho pembangunan, digunakan secara efektif untuk masyarakat luas, hingga pelosok desa melalui Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pirsawan) dan pameran pembangunan. Poster-poster politik terkait kampanye Pemilu tercatat dalam buku Pemilu dalam Poster (Suwondo, Budiman, Pradjarta, 1987, hal.26). Tercatat bahwa kontestan yang mampu menampilkan desain poster dengan warna-warna menarik dan ‘bermodal’ adalah kontestan Golkar. Keunggulan modal dan keunggulan politik yang tak imbang dibandingkan kontestan Pemilu lainnya disindir dalam buku ini dengan sebutan “Pesta Demokrasi Golkar”. Kampanye Keluarga Berencana dan Imunisasi di masa Orde Baru, juga memanfaatkan poster. Salah-satu poster yang menyebarluas adalah poster “Imunisasi, Perlu untuk Semua Bayi”. Poster ini menampilkan foto Ibu Tien mendampingi “Bapak Presiden” yang sedang meneteskan obat Imunisasi Polio pada bayi, dalam rangka Hari Anak-Anak Nasional 1986. Rancangan poster itu dibuat ulang pada 1991, dengan dibubuhi tanda tangan Soeharto pada bagian bawah poster.

Pada masa represif Orde Baru ini pula bermunculan poster-poster perlawanan anti-propaganda Soeharto. Poster-poster perlawanan ini berkembang sejalan dengan bertumbuhnya gerakan masyarakat sipil di Indonesia yang bertumpu di berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat maupun perguruan tinggi. Pada masa Orde Baru itu sekitar tahun 1980an muncul kalender poster “Tanah untuk Rakyat” yang dirancang oleh Yayak ‘Kencrit’ Ismaya. Kalender satu tahun dalam bentuk satu lembar poster ini tampil dalam gaya ilustrasi yang sarkastik. Karena rancangannnya ini maka aparat pemerintah mencari-cari Yayak hingga akhirnya dia terpaksa pindah ke Jerman. Pada 2009 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pernah diadakan sebuah pameran “Grafis Melawan Lupa” yang menampilkan beragam media desain grafis, khususnya poster-poster perlawanan untuk menggerus propaganda Orde Baru yang sangat masif. Salah-satu poster yang ditampilkan adalah poster perlawanan yang cukup ekspresif dirancang oleh Semsar Siahaan, berjudul Marsinah (koleksi Harry Wibowo). Sebuah poster untuk memperingati dibunuhnya aktivis buruh Marsinah oleh aparat negara.

Alit Ambara, Aktivis dan Desainer Poster

Alit Ambara lahir di Singaraja – Bali pada 1971, lulus dari Institut Kesenian Jakarta pada 1993 dari jurusan patung. Begitu lulus kuliah dia mendirikan studio desain grafis Nobodycorp. Internationale Unlimited. Pada 1996 melanjutkan ke Savannah College of Art and Design, Amerika Serikat untuk mengikuti jenjang S2 dalam sejarah seni rupa. Jejaknya sebagai seorang desainer sekaligus pekerja hak asasi manusia dimulai secara tetap sejak 1998 dengan menjadi pengarah seni untuk sebuah majalah alternatif yang mengangkat isu-isu sosial-budaya Jurnal Media Kerja Budaya. Pada 2000 Alit terlibat dalam Fortilos, kelompok solidaritas untuk Timor Timur (sekarang Timor Leste).

Walau belajar secara akademis dalam pendidikan seni rupa, dalam perspektif sempit dan ketat bisa dikatakan bahwa Alit adalah otodidak dalam bidang desain grafis. Alit Ambara dapat dikatakan seorang desainer poster yang sangat produktif. Walau kini dia juga mengerjakan sampul muka buku, dan menangani desain dari Jurnal IndoProgress di Yogyakarta, nampaknya sebagian besar karyanya tetaplah dalam bentuk poster. Alit Ambara merancang poster-poster sebagai sebuah media ekspresi personal yang merupakan tanggapan kritis terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di negerinya, selain juga beberapa kejadian di luar negeri. Bahkan bila melihat konteks desain grafis Indonesia, sejauh ini nampaknya Alit Ambara adalah desainer poster sosial paling produktif di negeri ini. Betapa tidak, sejak tahun 1993 hingga kini Alit Ambara telah merancang lebih dari 1000 poster, yang seluruhnya ditampilkan di website Nobodycorp. Internationale Unlimited dan Posteraksi. Dalam kurun waktu 2010-2013 saja, telah ditampilkan sekitar 800 poster. Poster-poster Alit Ambara keseluruhannya ditampilkan berbasis lisensi Creative Commons (CC). Artinya seseorang dapat menggunakan poster-poster tersebut untuk kepentingan non-komersial dan dengan menyebutkan nama perancang/sumber, serta dalam penggunannya tidak bertentangan dengan tujuan dari perancangan poster-posternya.

Hampir seluruh, kalau bukan seluruhnya, poster-poster Alit Ambara dirancang dengan menggunakan perangkat komputer. Namun yang menarik Alit tak tergoda untuk sibuk menggunakan berbagai kemampuan piranti lunak komputer masa kini yang canggih dan rumit. Karya-karya Alit Ambara dengan cermat memanfaatkan permainan warna-warna datar/blok, bentuk dan garis secara sederhana. Alit menggunakan perangkat komputer secara efektif dan efisien untuk mempercepat kerja, tanpa terjebak dalam ‘kegenitan-digital’. Karena itu bila hendak mencari berbagai inovasi kreatif secara teknis, pasti kita akan kecewa. Pun Idiom-idiom visual Alit bukan hal baru dalam jagad desain grafis, ada yang merupakan ‘pinjaman’, ada yang merupakan kesepakatan umum yang memang digunakan untuk menjadi komunikatif.

Kekuatan desain poster Alit setidaknya ada tiga hal, pertama sikap kritis dan keberpihakan pada nilai humanisme – tercermin dalam konsep perancangan yang kuat, Kedua, sikap tersebut dikerjakan secara cepat dan sehingga langsung dapat menanggapi berbagai situasi chaos sosial politik nan ajaib di negeri ini, selain kadang juga di luar negeri. Ketiga, kecepattanggapan Alit tidak membuat eksekusi menjadi lemah. Pada tahap eksekusi desain poster Alit didasari pada olahan bahasa visual yang sangat efektif dan efisien. Dalam strategi penyampaian pesannya, Alit kadang menggunakan gaya bahasa visual yang berteriak langsung, lugas, mengajak pada aksi. Misal dalam poster-poster tentang ajakan mogok kerja, atau aksi turun ke jalan. Kadang Alit mengajak kita untuk merenungkan dan menafsirkan sendiri, idiom-idiom visual yang dia suguhkan dalam sunyi. Misalnya saja poster-poster Kartini, Tragedi Syiah Sampang, dan sebagainya.

Desain-desain poster Alit Ambara sangat memperkaya khasanah desain grafis dan seni rupa di bumi pertiwi yang sedang hamil tua menjelang Pemilu 2014 ini. Karya poster-poster  Alit dapat menembus batasan-batasan sempit antara seni dan desain. Dalam cara kerjanya yang relatif independen Alit nampaknya lebih tepat disebut seniman Poster. Hal ini mengingatkan kita pada poster-poster Kuba dan Mexico tahun 1960-1970an, atau desain-desain poster Polandia dalam ekspresi yang lebih ‘rapih’, serta beberapa kesederhanaan olahan juga mengingatkan kita pada gaya poster Shigeo Fukuda. Alit Ambara juga mencerminkan desainer poster masa kini, yang dengan cermat memanfaatkan dunia sosial media untuk menyebarluaskan karyanya. Sehingga tak heran walau Alit Ambara tinggal di Yogyakarta yang “Ora DiDol“ itu, namun melalui berbagai situs dan jejaring sosial Nobodycorp. Internationale Unlimited, poster-posternya tersebar luas diberbagai kota sebagai media komunikasi visual dalam berunjuk rasa. Dari aksi jalanan ini, poster-poster tersebut menjadi daya tarik visual yang memiliki nilai berita bagi media pers cetak maupun digital, untuk memuat aksi unjuk-rasa itu. Jadilah desain poster Alit Ambara bergerak dalam sebuah daur, dari dunia maya turun ke dunia jalanan, dan akhirnya kembali ke dunia maya lagi untuk disimak oleh publik yang lebih luas. Ayo unduh poster bung Alit segera!

Oktober 2013


Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s